Mengapa Kita Sering Terlalu Keras kepada Diri Sendiri?
Mengapa Kita Sering Terlalu Keras kepada Diri Sendiri?
Pernah nggak kamu melakukan satu kesalahan kecil, lalu memikirkannya berulang-ulang sepanjang hari?
Atau ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kamu langsung menyalahkan diri sendiri.
"Seharusnya aku bisa."
"Kenapa aku seperti ini?"
"Kalau waktu itu aku memilih yang berbeda, mungkin semuanya akan lebih baik."
Kadang kita bahkan tidak membutuhkan orang lain untuk menyalahkan kita.
Kita sudah melakukannya sendiri.
Kita menjadi orang yang paling keras kepada diri sendiri.
Padahal kalau kesalahan yang sama dilakukan oleh orang yang kita sayangi, mungkin kita justru akan berkata,
"Nggak apa-apa. Namanya juga manusia."
Lalu mengapa kita sulit mengatakan hal yang sama kepada diri sendiri?
Kita Sering Mengira Harus Selalu Kuat
Mungkin sejak lama kita terbiasa berpikir bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh gagal.
Harus bisa.
Harus berhasil.
Harus menyelesaikan semuanya.
Harus mampu menghadapi setiap masalah tanpa mengeluh.
Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita merasa telah mengecewakan diri sendiri.
Padahal manusia memang tidak dirancang untuk selalu kuat.
Ada hari ketika kita bersemangat.
Ada hari ketika kita kehilangan tenaga.
Ada saat ketika kita tahu harus melangkah ke mana.
Ada juga saat ketika kita benar-benar bingung.
Semua itu bagian dari perjalanan.
Kita Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu alasan mengapa kita terlalu keras kepada diri sendiri adalah karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain.
Teman sudah punya pekerjaan bagus.
Orang lain sudah menikah.
Ada yang sudah memiliki rumah.
Ada yang usahanya berkembang.
Ada yang terlihat bahagia setiap hari.
Kemudian kita melihat kehidupan sendiri dan berpikir,
"Kenapa aku belum sampai di sana?"
Tanpa sadar, kita menjadikan perjalanan orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri.
Padahal setiap orang berjalan dengan kondisi yang berbeda.
Kita tidak mengetahui seluruh cerita di balik kehidupan seseorang.
Yang terlihat mungkin hanya hasil akhirnya.
Sementara perjuangan mereka yang sebenarnya tidak selalu terlihat.
Kalau kamu sedang merasa tertinggal, mungkin kamu bisa membaca:
Ketika Kamu Merasa Tertinggal dari Orang Lain, Ingatlah Ini
Mungkin kamu bukan terlambat.
Mungkin kamu hanya sedang menjalani waktu yang berbeda.
Kesalahan Tidak Selalu Berarti Kegagalan
Kita sering menganggap kesalahan sebagai bukti bahwa kita tidak cukup baik.
Padahal kesalahan juga bisa menjadi bagian dari proses belajar.
Kita salah memilih.
Kita salah mengambil keputusan.
Kita pernah mempercayai orang yang ternyata mengecewakan.
Kita pernah mengambil kesempatan yang ternyata tidak sesuai harapan.
Semua itu memang bisa menyakitkan.
Tetapi bukan berarti seluruh hidup kita menjadi gagal karena satu keputusan.
Kadang kita baru memahami sesuatu setelah mengalaminya sendiri.
Dan mungkin itu memang cara kehidupan mengajarkan kita.
Tidak Semua Hal Harus Selesai Hari Ini
Ada kebiasaan lain yang sering membuat kita semakin lelah.
Kita ingin semuanya selesai secepat mungkin.
Masalah harus selesai.
Pekerjaan harus selesai.
Tujuan harus tercapai.
Jawaban harus ditemukan.
Ketika semuanya belum selesai, kita merasa bersalah.
Padahal ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu.
Kita tidak bisa memaksa diri untuk memahami seluruh kehidupan hanya dalam satu hari.
Ada masalah yang perlu dipikirkan.
Ada keputusan yang perlu dipertimbangkan.
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Dan ada perjalanan yang memang harus dijalani sedikit demi sedikit.
Seperti yang kita bahas sebelumnya:
Ada Saatnya Kita Harus Berhenti Memaksakan Diri
Berhenti sebentar bukan berarti kita tidak punya tujuan.
Kadang kita hanya sedang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali bernapas.
Cobalah Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Baik
Coba bayangkan seseorang yang kamu sayangi sedang mengalami kegagalan.
Dia datang kepadamu dan berkata,
"Aku gagal."
Apakah kamu akan menjawab,
"Kamu memang nggak becus"?
Kemungkinan besar tidak.
Kamu mungkin akan mengatakan,
"Sudah, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
"Kamu sudah berusaha."
"Masih ada kesempatan lain."
Sekarang coba katakan kalimat yang sama kepada dirimu sendiri.
Bukan untuk membenarkan semua kesalahan.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa kamu juga manusia yang sedang belajar.
Menerima Diri Bukan Berarti Berhenti Bertumbuh
Menerima diri sering disalahartikan sebagai menerima semuanya tanpa ingin berubah.
Padahal bukan begitu.
Kita tetap boleh memperbaiki diri.
Tetap boleh mengejar sesuatu.
Tetap boleh memiliki target.
Tetap boleh ingin menjadi lebih baik.
Hanya saja, proses menuju ke sana tidak harus selalu disertai dengan kebencian kepada diri sendiri.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku belum sampai, tapi aku sedang berusaha."
"Aku melakukan kesalahan, tetapi aku bisa belajar darinya."
"Aku belum menjadi seperti yang kuinginkan, tetapi bukan berarti aku tidak akan pernah sampai."
Ada perbedaan besar antara ingin menjadi lebih baik dan merasa bahwa diri kita tidak pernah cukup baik.
Kita Semua Sedang Belajar Hidup
Tidak ada manusia yang sejak awal mengetahui semua jawaban.
Kita belajar menjadi anak.
Kemudian belajar menjadi dewasa.
Belajar bekerja.
Belajar mencintai.
Belajar menjadi pasangan.
Belajar menjadi orang tua.
Belajar menghadapi kehilangan.
Belajar menerima perubahan.
Bahkan setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan, masih ada banyak hal yang belum kita pahami.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena hidup memang bukan tentang menjadi manusia yang sempurna.
Kita semua sedang belajar.
Kalau kamu ingin membaca lebih jauh tentang hal ini:
Kita Semua Sedang Belajar Hidup: Tidak Ada yang Benar-Benar Siap
Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak tekanan.
Mungkin kita hanya membutuhkan sedikit pengertian kepada diri sendiri.
Kalau Hari Ini Kamu Gagal
Kalau hari ini ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapanmu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir.
Tarik napas.
Lihat kembali apa yang terjadi.
Ambil pelajarannya.
Kemudian lanjutkan ketika kamu sudah siap.
Dan kalau hari ini memang terasa terlalu berat, tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kamu sedang lelah.
Tidak Apa-Apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja
Besok masih ada.
Kesempatan lain mungkin masih terbuka.
Dan perjalananmu belum selesai hanya karena satu hari berjalan buruk.
Ingin Membaca Lebih Dalam?
Kalau tulisan-tulisan di Kembali Pulang terasa dekat dengan apa yang sedang kamu alami, aku juga sedang menuliskan perjalanan ini lebih dalam melalui sebuah ebook sederhana.
Bukan untuk menggurui.
Bukan juga untuk memberikan semua jawaban.
Hanya sebuah tulisan yang ingin menemani perjalanan tentang mengenal diri, menemukan ketenangan, dan perlahan belajar kembali kepada Tuhan.
👉 Baca First Step Tauhid di sini
Pelan-pelan saja.
Tidak perlu menyelesaikan semuanya hari ini.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Mengapa kita sering terlalu keras kepada diri sendiri?
Kita bisa menjadi terlalu keras karena memiliki standar yang tinggi, takut gagal, sering membandingkan diri dengan orang lain, atau terbiasa merasa harus selalu kuat.
Apakah menerima diri berarti tidak perlu berubah?
Tidak. Menerima diri berarti mengakui kondisi diri saat ini sambil tetap memberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Bagaimana cara berhenti menyalahkan diri sendiri?
Mulailah dengan melihat kesalahan sebagai sesuatu yang bisa dipelajari. Akui bagian yang perlu diperbaiki, tetapi jangan menjadikan satu kesalahan sebagai ukuran seluruh nilai dirimu.
Apakah wajar jika masih merasa belum cukup baik?
Wajar. Banyak orang mengalami perasaan tersebut dalam perjalanan hidupnya. Yang penting adalah tidak membiarkan perasaan itu membuat kita terus-menerus merendahkan diri sendiri.
Pada Akhirnya
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menjadi kuat.
Terlalu sibuk mengejar.
Terlalu sibuk membuktikan sesuatu.
Sampai lupa bahwa diri sendiri juga membutuhkan seseorang untuk berkata:
"Kamu sudah berusaha sejauh ini. Jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri."
Kamu boleh memperbaiki diri.
Kamu boleh memiliki impian.
Kamu boleh ingin menjadi lebih baik.
Tetapi kamu juga boleh beristirahat ketika lelah.
Boleh menangis ketika sedih.
Boleh mengakui bahwa kamu belum tahu jawabannya.
Dan boleh memulai lagi ketika semuanya terasa berantakan.
Karena menjadi manusia bukan tentang tidak pernah salah.
Melainkan tentang terus belajar setelah melakukan kesalahan.
Pelan-pelan saja.
Kita semua sedang belajar hidup.

Komentar
Posting Komentar